Home / Daerah / Standard Chartered Bank Support Deteksi dan Pencegahan Gangguan Penglihatan Untuk Bayi Prematur

Standard Chartered Bank Support Deteksi dan Pencegahan Gangguan Penglihatan Untuk Bayi Prematur

Rajawali Citra News. Com,  jakarta, – Standard Chartered Bank  bersama Helen Keller international (HKl) dan konsorsiumnya [ORBIS]. dengan didukung oleh Kasoem Vision Care hari ini menggelar seminar kesehatan “Deteksi dan Pencegahan Bangguan Penglihatan pada Bayi Prematur‘. Acara tersebut berlangsung di Oxygen Zone Gedung Standard Chartered,  Jumaat ( 27/10 )

Acara yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini untuk mencegah gangguan pengllhatan.

Acara dihadiri Dody Rochadi, Country Head Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia, dan Prof. Dr. Rita Sita Sitorus. SleK), PhD, pakar kesehatan mata anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sekaligus Guru Besar Departemen llmu Kesehatan Mata Universitas Indonesia.

Selain kegiatan edukasi, acara ini juga  pemeriksaan mata gratis yang difasilitasi oleh Kasoem Vision Care.

Pada tahun 2010, Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa  (PBB) yang berjudul Born Too Soon, The Global Action Report on Preterm Bin‘h menempatkan Indonesia di urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah bayi Drematur terbanyak di dunia.

Bayi prematur diketahui menjadi penyumbang terbesar angka kematian bayi serta cacat fisik.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 44 persen kematian bayi di dunia pada 2012 terjadi pada 28 hart pertama kehidupan (masa neonatal), dimana penyebab terbesamya (37 persen) ialah kelahiran prematur.

Prematur menjadi penyebab kematian kedua tersering pada balita setelah pneumonia. Bayi yang terlahir prematur (lahir dengan berat kurang dari 1500 gram atau usia kehamilan kurang dari 34 minggu beresiko mengalami gangguan mata Retinopati Prematuritas (ROP).

Penyakit ini diduga disebabkan oleh pertumbuhan tidak sempurna dari retina pembuluh darah yang dapat menyebabkan jaringan parut dan Operasi pada retina.

Gangguan mata ROP dapat terjadi dalam skala ringan, dimana dapat menghilang secara Spontan, namun kasus yang berat dapat mengakibatkan kebutaan.

Prof. Dr. Rita Sita Sitorus, SpM (K), PhD, mengatakan “penanggulangan kebutaan pada bayi dan anak, karena bayi yang terlahir buta atau menjadi buta setelah tumbuh menjadi anak-anak memiliki waktu hidup dengan kebutaan yang lebih lama dibandingkan mereka yang menderita kebutaan pada usia dewasa”. ujarnya.

Dia katakan lagi  “Walaupun angka kejadian kebutaan pada anak tidak setinggi dengan kebutaan pada orang dewasa seperti katarak, namun total beban emosional, sosial‘ ekonomi yang harus dibayar akibat kebutaan seorang anak terhadap keiuarga. masyarakat maupun negara jauh Iebih besar dibandingkan beban yang harus dibayar akibat kebutaan pada orang tua.” ungkap Prof. Dr. Ruta kepada reporter RCNC.

Untuk gangguan kognitif, penglihatan dan pendengaran. Hal inidikarenakan kurangnya pengetahuan orang tua, serta perhatian dan dukungan dari dari para dokter, tenaga kesehatan, pemerintah, serta pihak terkait untuk menginformasikan bagaimana cara pencegahan ataupun bagaimana cara menghadapi / merawat bayi prematur.

Pody Rochadi, Country Head Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia menjelaskan  ” Kebutaan merupakan salah satu isu kunci di pangsa pasar Standard Chartered Bank dimana gangguan penglihatan dapat mengurangi kualltas hidup seseorang dan keterbatasan tersebut berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang.” papar Dody.

Ménurut data Fred Hollows Foundation keriasama dengan PriceWater house Coopers, setiap 1 Dolar AS yang diinvetasikan untuk mengentaskan kebutaan yang dapat dicegah, untuk mendorong sekitar 4 Dolar AS keuntungan ekonoml.

“Melalui program Seeing is Believing (SIB) yang berfokus pada kampanye penyadaran terhadap pencegahan kebutaan yang dapat dihindari atau disembuhkan.

Standard Chartered turut membantu menyadarkan masyarakat akan pentingnya deleksi dlni mencegah gangguan penglihatan yang dapat terjadi pada bayi prematur. sepertl low vision, kelainan refraksi. hingga kebutaan” kata Dody.

“Seminar kesehatan yang kami selenggarakan secara kolaboratif hari inl sekiranya dapat memberikan sumbangsih kecil dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pencegahan gangguan penglihatan pada bayi prematur.‘ lanjutnya.

Selaln komitmen terhadap peningkatan edukasi kepada masyarakat, Bank juga mengalokasikan dana program SIB untuk mendukung kerjasama HKI dan RSCM untuk merintis sistem penanganan ROP di berbagai rumah sakit umum daerah (RSUD).  Saat ini perawatan untuk Retinopaii Prematuritas baru tersedia di RSCM, sehingga program ini merupakan program pertama yang memperluas akses ke layanan ROP di tingkat RSUD di Jakarta. Dana tersebut  akan digunakan untuk pelatihan staf rumah sakit di RSCM dan RSUD.

Sebagai informasi, pada Mei 2017 yang Ialu, Bank bersama dengan HKI telah menyerahkan saiu buah kamera retina mobile. alat yang dipergunakan untuk memeriksa retina bayi lahir prematur, kepada RSCM untuk mengidentifrkasi bayi prematur dengan dugaan Retinopati Prematur (ROP) dan merujuk pada pengobatan yang dibutuhkan.

Program SIB dilaksanakan dl seluruh dunia. termasuk Indonesia, seiak 2003. Beberapa keg’latan yang telah dilakukan diantaranya pelaksanaan operasi katarak, pemeriksaan mata dan pemberian kacamata, peningkatan kapasitas bagi para tenaga kesehatan, diabetic retinopathy, serta pembuatan fasilitas pendukung pemeriksaan mata di beberapa wilayah di Indonesia.

 

Penulis : Jonathan Sigar.

 

 

Editor : Darius Manurung.

 

 

About Rajawali Citra News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Gedung DPR RI Terbakar Seluruh Pegawai Kocar Kacir Berhamburan.

RAJAWALI CITRA NEWS , JAKARTA- Gedung rakyat DPR RI Kebakaran yang terjadi ...